Sabtu, 11 Oktober 2014

PENGERTIAN METAFORA
1. Secara Umum
   Pada dasarnya metafora merupakan suatu perumpamaan / kiasan / pemakaian   kata – kata bukan arti yang sebenarnya, yang sengaja digunakan untuk menggambarkan sesuatu, berdasarkan persamaan atau perbandingan, untuk mencapai tujuan tertentu. Para
Sastrawan dari masa lampau hingga sekarang banyak menggunakan metafora untuk mengungkapkan buah pikirannya ke dalam suatu karya sastra. Selain para Sastrawan, para Ilmuwan juga banyak menggunakan metafora dalam menggambarkan analisa ilmiahnya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan orang mencerna dan memudahkan pemikiran selanjutnya atas konsep – konsep hasil analisa ilmiahnya.

2. Secara Khusus
   Yaitu yang akan dibahas dalam uraian ini, metafora adalah pengelompokan sejumlah eksistensi yang mempunyai sejumlah ciri yang sama ke dalam kategori tertentu. Artinya adalah menyamakan sesuatu yang kebetulan mempunyai sejumlah ciri yang sama atau hampir sama. Hal ini mempunyai tujuan tertentu. Misalnya supaya lebih indah dan untuk memudahkan berpikir selanjutnya.

3. Ciri – ciri Formal
   Kata – kata yang sering digunakan dalam metafora ini adalah menggunakan   kata – kata penghubung yang menyatakan persamaan, misalnya; seperti, laksana, sebagai, bagaikan, bak, ibarat, dan sebagainya.

LATAR BELAKANG METAFORA
   Penggunaan metafora dalam berbahasa disebabkan oleh adanya:
1. Kebiasaan
   Yaitu kebiasaan menyamakan dengan sengaja sesuatu dengan yang lainnya karena mempunyai sifat / ciri – ciri yang sama atau hamper sama. Hal ini didasari oleh perbandingan atau persamaan, untuk mencapai maksud tertentu.

2. Kategorisasi / Pengelompokan
   Dalam kehidupan sehari – hari, banyak terjadi pengelompokan sejumlah kata, yang saling ada kaitannya. Dalam bidang ilmiah pengelompokan ini bertujuan untuk memudahkan proses berpikir selanjutnya.

TANGGAPAN MASYARAKAT TERHADAP NETAFORA
  Berbagai tanggapan masyarakat muncul, terhadap penggunaan metafora dalam berbahasa, diantaranya:
  1. Masyarakat menilai bahwa metafofa itu tidak benar, karena di dunia ini tidak ada dua hal atau benda yang mempunyai ciri – ciri yang sama / hampir sama.
  2. Menganggap bahwa metafora – metafora lama telah basi. Artinya metafora – metafora yang telah diciptakan pada masa lampau, sudah tidak berlaku lagi bila diterapkan pada masa sekarang.
  3. Masyarakat menaggapi metafora selain berpengaruh positif pada kehidupan masyarakat, namun juga ada pengaruh negatifnya.

PENGARUH METAFORA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT
   Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti ada pengaruh atau efek yang akan ditimbulkan. Begitu juga halnya, bahasa. Karena berfungsi sebagai alat atau sistem untuk menyampaikan sesuatu. Maka bahasa akan mempengaruhi pola berpikir dan tingkah laku masyarakat yang menggunakannya. Dalam hal ini metafora juga akan berpengaruh sekali dalam kehidupan masyarakat. Selain berpengaruh positif, ada pula metafora yang berpengaruh negatif.

1. Pengaruh Positif
 - Mempengaruhi pola berpikir dan tingkah laku manusia untuk lebih baik.
 - Mendorong masyarakat untuk berpikir secara kritis.
 - Mengakibatkan pemikiran yang bersifat senang pada kehidupan.

2. Pengaruh Negatif

  • Mengakibatkan gambaran yang salah ( salah paham ), hal ini dapat terjadi   karena persamaan hal tersebut tidak berlaku secara keseluruhan, tetapi hanya   sebagian saja.
  • Menimbulkan pemikiran untuk tidak senang pada kehidupan ini. Hal ini diakibatkan oleh adanya metafora – metafora yang menyatakan bahwa kehidupan ini sangat keras dan membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Ini akan mengakibat seseorang akan putus asa.
  • Mengarahkan pada pola pemikiran dan tingkah laku yang kurang baik. Hal ini   dipengaruhi oleh metafora – metafora yang menyatakan bahwa pada masa yang  akan datang, akan terjadi mesinisasi di segala bidang. Hal ini akan  mengakibatkan masyarakat malas bekerja dan berusaha.

KESIMPULAN
  Metafora adalah salah satu bentuk ucapan bahasa dalam kesatuanya dengan keseluruhan bahasa dalam pemakaiannya. Metafora dapat mempengaruhi pola pemikiran dan tingkah laku masyarakat. Selain ada yang berpengaruh positif, metafora juga ada yang berpengaruh negative pada kehidupan masyarakat.    





Senin, 06 Oktober 2014

LATAR BELAKANG
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan Lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terajadi kapan saja dan dimana saja. Belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Jadi hakekat belajar adalah perubahan sebagai hasil dari proses belajar itu yang bisa terjadi bengan adanya perubahan pada tingkatan pengetahuan, ketrampilan , atau sikapnya.

Proses belajar mengajar merupakan interaksi antara pendidik dan anak didiknya yang dapat dilakukan dilingkungan formal, informal maupun nonformal. Apabila proses tersebut terjadi di Sekolah, maka perubahan dalam diri siswa terjadi secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan , keterampilan maupun sikapnya. Dan proses interaksinya terjadi di lingkungan Sekolah dengan siswa lain, Guru, bahan atau materi pelajaran, fasilitas – fasilitas Sekolah, dan petugas – petugas Sekolah yang lain.

Proses belajar mengajar di lingkungan formal pada saat sekarang ini sesuai dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sangat memerlukan pemanfaatan hasil teknologi berupa fasilitas, media dan alat, agar tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.

Dalam proses pembelajaran sangat diperlukan media untuk menyapaikan  pesan – pesan atau materi kepada peserta didik. Sehingga media merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam  proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya, dan khususnya tujuan pembelajaran di Sekolah.  Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang media pembelajaran baik dari segi  pengertian, fungsi , manfaat dan kegunaannya. Serta klasifikasi media – media tersebut.

Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi pelajaran) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa/peserta didik). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan (Criticos, 1996). 

Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan  yang disebabkan oleh beberapa faktor, mislnya:


  1. Hambatan psikologis, yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan.
  2. Hambatan fisik , berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan.
  3. Hambatan cultural, berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan.
  4. Hambatan lingkungan, yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan lingkungan  sekitar
Agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi pelajaran) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka media adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, terutama untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, lebih jauh perlu dibahas tentang arti, posisi, fungsi, klasifikasi, dari  beberapa jenis media khususnya yang berbasis visual dan audio visual.

A.    PENGERTIAN  MEDIA
Secara harfiah  media berasal dari “medius”  (bahasa Latin)  yang berarti ‘tengah’, dan dapat diartikan sebagai  ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Secara khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau metode  dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan murid dalam rangka lebih mengefektifkan interaksi antara keduanya dalam proses belajar mengajar  di sekolah.

Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi atau penyalur pesan. Secara luas media dapat diartikan dengan manusia, peristiwa benda atau peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.

B.   POSISI  MEDIA  PEMBELAJARAN
Menurut Bruner (1966)  ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu : enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok. Dalam tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman, siswa secara langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.

Media pembelajaran merupakan suatu perantara seperti apa yang dimaksud pada pernyataan di atas. Dalam kondisi ini, media yang digunakan memiliki posisi sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran, yaitu alat bantu mengajar bagi guru (teaching aids).

C.   FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN
Secara luas fungsi media pembelajaran yaitu :
  1. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.
  2. Memberikan pengalaman yang lebih nyata (abstrak menjadi kongkret)
  3. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan)
  4. Semua indera murid dapat diaktifkan.
  5. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
  6. Dapat membangkitkan teori dengan realitanya.
Sedangkan menurutLevie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:

a.  Fungsi Atensi
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkah perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampikan atau menyertai teks materi pelajaran.
b.  Fungsi Afektif
Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras.
c.  Fungsi kognitif
Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d.  Fungsi kompensatoris
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konsteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Peserta didik  yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan peserta didik yang belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman siswa  terhadap materi pelajaran.

Sedangkan manfaat media pembelajaran menurut Encyclopedia of Educational Reseach merincikan manfaat media pendidikan sebagai berikut:


  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir.
  2. Memperbesar perhatian siswa.
  3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar.
  4. Memberikan pangalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
  5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinue.
  6. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa
  7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain.

D.    MEDIA  BERBASIS  VISUAL
Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman (misalnya melalui elaborasi, struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image), itu untuk menyakinkan terjadinya proses informasi.

Bentuk visual dapat berupa :


  1. Gambar representasi seperti gambar, lukisan atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya  suatu benda.
  2. Diagram yang melukiskan hubungan-hubungan konsep, organisasi dan struktur isi material.
  3. Peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang antara unsur-unsur dalam isi materi.
  4. Grafik seperti table, grafik, dan chart yang menyajikan gambaran/kecendrungan data atau  antar hubungan seperangkat gambar atau angka-angka.
Keberhasilan penggunaan media berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan – bahan visual dan grafik. Hal ini dapat dicapai dengan mengatur dan mengorganisasikan gagasan – gagasan yang timbul, serta merencanakan dengan seksama.

Ada beberapa prinsip umum yang perlu diketahui untuk penggunaan efektif media berbasis visual sebagai berikut:


  1. Usahakan visual itu sesederhana mungkin.
  2. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
  3. Gunakan grafik untuk menggambarkan ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit-unit pelajaran.
  4. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat.
  5. Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep.
  6. Hindari visual yang  tak berimbang.
  7. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.
  8. Visual diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca.
  9. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari     unsur-unsur latar belakang.
  10. Keterangan gambar harus disiapkan.
  11. Warna harus digunakan secara realistik.
  12. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan     komponen-komponen.

E.    MEDIA BERBASIS  AUDIO  – VISUAL
Media berbasis Audio - Visual dapat berupa film, rekaman video, dan lain – lain. Permainan simulasi termasuk juga dalam kelompok media berbasis audio -visual. Media berbasis Audio - Visual merupakan media visual yang menggabungkan penggunaan suara. Media ini memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio visual dalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan , dan penelitian.

Naskah yang menjadi bahan narasi disaring dari isi pelajaran yang kemudian disintesiskan ke dalam apa yang ingin ditunjukkan dan dikatakan. Narasi ini merupakan penuntun untuk memikirkan bagaiman video menggambarkan atau visualisasi materi pelajaran. Pada awal pelajaran , media harus mempertunjukkan sesuatu yang dapat menarik perhatian semua siswa.

Sedangkan untuk mengembangkan storyboard, harus memperhatikan  beberapa hal berikut ini:

  1. Menetapakan jenis visual apa yang akan digunakan untuk mendukung isi pelajaran, dan mulai membuat sketsanya.
  2. Pikirkam bagian yang akan diperankan audio dalam paket program tersebut. Audio bisa dalam bentuk diam, sound effect khusus, suara latar belakang, music, dan lain – lain. Kombinasi suara akan memperkaya paket program itu.
  3. Lihat dan yakinkan bahwa seluruh isi pelajaran tercakup dalam storyboard.
  4. Review storyboard sambil mengecek hal – hal berikut : semua audio dan grafik cocok dengan teks, pengantar dan pendahuluan menampilkan penarik perhatian, informasi penting telah dicakup, narasi harus singkat dan padat, alur dan organisasi program mudah diikuti dan dimengerti.
  5. Catat semua komentar, kritik, dan saran – saran orang sekitar.
  6. Revisi untuk persiapan akhir sebelum memulai penyajian.

KESIMPULAN

  1. Media adalah alat untuk menyampaikan dan mengantar pesan pembelajaran
  2. Posisi media dalam pembelajaran adalah sebagai alat bantu.
  3. Fungsi media terbagi menjadi empat, yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif dan  fungsi  kompensatoris.
  4. Manfaat media pembelajaran adalah pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, bahan pembelajaran akan bermakna, metode mengajar akan bervariasi dan siswa lebih banyak melakukan kegiatan balajar.
  5. Media berbasis visual dapat berupa gambar presentasi, diaram, peta, dan grafik.
  6. Media berbasis audio visual berupa film,permaianan simulasi juga termasuk dalam kelompok ini.


DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. Media  Pembelajaran . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi  Belajar . Jakarta : Rineka Cipta, 2002



                       


           
           


Minggu, 05 Oktober 2014

Bawang Merah


Bawang merah adalah salah satu jenis tanaman yang digunakan sebagai bumbu masakan oleh sebagian besar masyarakat asia (khususnya asia tenggara) dan dunia. Sebagian besar bumbu masakan di berbagai belahan dunia ini pasti mengandung bawang merah. Bawang merah ini digunakan sebagai penyedap rasa dari masakan tersebut. Oleh karena itu tidak heran jika kebutuhan bawang merah relatif stabil di pasaran.
Bawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) oleh masyarakat jawa

Rabu, 01 Oktober 2014

    Belakangan ini kehidupan kita tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya internet. Dari anak muda, dewasa, orang tua hingga anak kecilpun tidak akan asing jika mendengar kata-kata internet. Internet bagaikan makanan pokok yang wajib dikonsumsi di kehidupan sekarang ini. Seseorang bahkan akan dikatakan gaptek jika tidak pernah membuka atau mengakses internet. Karena dengan internet seseorang akan dengan mudah mengakses pengetahuan, informasi dan berita dari berbagai sumber. Bahkan para pelajar maupun mahasiswa cenderung lebih suka bertanya atau mencari data di mesin pencari data di internet, semisal google yang sering mereka sebut sebagai “mbah google”, dari pada bertanya langsung kepada gurunya.
     Bagi para pelaku usaha, penggunaan internet akan sangat

Categories

Unordered List

Sample Text

Blog Archive

Popular Posts

Recent Posts

praktek

Text Widget